Monday, 17/2/2020 | 7:06 UTC+0
  • Synopsis film Baywatch

    Bagi Anda yang melewatkan masa remajanya di tahun 90-an pasti masih mengingat dengan jelas serial televisi yang mengisahkan tentang para penjaga pantai dengan bintangnya David Hasselhoff dan bintang seksi Pamela Anderson. Yang khas dari serial tv tersebut adalah deretan actor dan aktris tampan dan cantik mengenakan seragam pakaian renang berwarna merah menyala yang berlarian di pantai serta music pembuka yang sangat ikonik itu. Nah, bagi Anda yang ingin bernostalgia, di bulan Mei minggu terakhir film tersebut  akan diangkat ke layar lebar dengan disutradarai oleh Seth Gordon yang sebelumnya berkarya pada film Horrible Bosses dan Identity Thief. Sementara untuk penulis naskahnya diisi oleh Mark Swift dan Damian Shannon yang juga menggarap naskah Friday the 13th. Film yang pastinya seru ini diproduseri oleh Ivan Reitman  yang sebelumnya merupakan produser dari film Up in the Air dan Ghostbusters. Kali ini bukan lagi David Hasselhoff yang membintangi film tersebut  tetapi Dwayne “The Rock” Johnson serta actor tampan Zac Efron sebagai Mitch Buchannon serta Matt Broddy yang dahulu diperankan oleh David Charvet.

     

    Synopsis singkat film Baywatch

    Sedikit berbeda dengan cerita pada serial televisinya, pada versi layar  lebar ini akan mengisahkan tentang dua penjaga pantai yang sulit untuk tetap berdamai, yaitu Mitch dan Matt. Mitch seperti pada serial tv-nya adalah bos pada satuan penjaga pantai yang bergengsi tersebut dengan karakter perfeksionis dan focus pada pekerjaannya. Ia berharap seluruh anggota tim-nya menganggap serius pekerjaan penyelamat tersebut. Kemudian Matt masuk ke timnya, yang seorang mantan atlet olimpiade dengan karakter arogan serta keras kepala yang sulit bekerja sama dengna orang lain. Matt masuk ke dalam tim yang dipimpin oleh Mitch demi meningkatkan citra bergengsi tim penyelamat tersebut. Tetapi mau tak mau mereka harus bekerja sama untuk menyelamatkan pantai dari polusi lingkungan saat sebuah perusahaan kilang minyak ternyata bertanggung jawab atas lubernya  minyak di lautan yang membahayakan ekosistem di sekitar pantai sekaligus masa depan seluruh pantai tersebut. Berbagai kejadian seru akan mereka alami untuk misi tersebut dan yang pasti sangat menarik untuk disaksikan.

     

    Selain kedua actor tersebut di atas, film ini akan semakin meriah dengan kehadiran superstar berdarah India Priyanka Chopra yang berperan sebagai Victoria Leeds, yaitu karakter antagonis baru. Dwayne Johnson pada film ini akan kembali bertemu dengan Alexandra Daddario yang pernah menjadi lawan mainnya di San Andreas. Di sini Alexandra akan berperan sebagai Summer Quinn. Lalu ada lagi Ilfenesh Hadera yang berperan dalam film Oldboy, pada Baywatch versi layar lebar ini akan  berperan sebagai Stephanie Holden. Terakhir adalah karakter CJ Parker yang fenomenal itu dan akan coba dimainkan oleh Kelly Rohrbach menggantikan Pamela Anderson. Sebagai tambahannya ada comedian  Hannibal Buress, Amin Joseph, Jon Bass, dan Jack Kesy. Yang lebih seru lagi kabarnya akan muncul pula secara sekilas David Hasselhoff dan Pamela Anderson sebagai cameo pada film tersebut

     

    Review film Baywatch

    Film ini cukup menarik untuk disaksikan sebagai hiburan karena kisahnya yang ringan dan cukup menarik. Tetapi selain itu film  ini juga membawa pesan tentang pelestarian lingkungan yang memang sudah selayaknya menjadi tanggung jawab kita bersama. Selain itu Anda juga akan menyaksikan bagaimana kerja sama tim berhasil menjadi solusi atas berbagai permasalahan yang seringkali cukup berat untuk ditanggung sendirian ditambah nilai-nilai pertemanan domino qiu qiu yang solid. Jadi, jangan ketinggalan untuk menontonnya.

    Read more
  • Arsene Wenger Anggap Chelsea Juara Karena Tak Main di Eropa

    Musim depan diprediksi oleh sang manajer Arsenal. Arsene Wenger sebagai musim terberat dan akan menjadi ujian terbesar bagi The Blues saat mereka akan tampil di banyak kompetisi. Ia mengklaim bahwa kampanye Chelsea dalam menuju tangga juara Liga Primer Inggris pada musim ini dibantu dengan faktor ringannya jadwal yang mereka punya.

    Fokus The Blues pada Satu Kompetisi

    Memang musim ini The Blues hanya fokus pada kompetisi domestic dan tidak tampil sama sekali di kancah Eropa. Hal ini bukan tanpa alasan. Chelsea tidak tampil di kancah Eropa karena di musim yang sebelumnya mereka finis di urutan ke-10. Selain itu sang manajer Arsenal itu juga merasa heran dengan tren baru-baru ini dimana pemenang Liga Primer Inggris malahan yang justru tidak mengandalkan taktik penguasaan bola.

    Sejauh ini Chelsea hanya mampu duduk manis di peringkat ke-6 soal statistic penguasaan bola, Chelsea sendiri mendapatkan 54.2%. presentase ini lebih banyak dibandingkan dengan Leicester City ketika menjadi kampiun musim lalu dengan presentase sebanyak 42.4% atau berada di peringkat ke-18.

    Wenger sempat memberikan komentarnya pada salah satu surat kabar UK, “Dalam 2 musim terakhir, tim yang tidak mempunyai penguasaan bola terbaik malahan memenangkan liga. Dan juga satu faktor lain, tidak bermain di Eropa. Mereka-mereka lah yang justru bisa menang di Liga.”

    Ia menambahkan, “Karena Liga Primer secara fisik kan sangat lah sulit. Mungkin akan sulit bagi tim-tim untuk memenangkan banyak kompetisi. Kita nantikan saja lah bagaimana reaksi Chelsea di musim depan.” Chelsea bisa mengunci gelar juara Liga Primer musim ini jika meraih kemenangan ketika melawan West Bromwich Albion akhir pekan ini.

    Wenger Kritik Juga Soal Kelakuan Jose Mourinho

    Selain mengritik soal Chelsea yang tak keluar dari ranah domestik, Wenger juga sempat mengritik sikap Mourinho yang mengecam habis-habisan performa pemainnya dalam kekalahan MU dari Arsenal. Seperti yang diketahui banyak orang, Jose Mourinho tampak begitu kesal dengan tim asuhannya ketika mereka dikalahkan Arsenal dengan skor 2-0 akhir pekan lalu.

    Selain menyulitkan kans, MU mengakhiri musim ini di posisi 4 besar. Ini menjadi kekalahan perdana Mou dari Wenger di Liga Primer Inggris. The Special One pasalnya mengecam para pemainnya yang dianggap punya tanggung jawab besar atas kekalahan itu. menganggapi sikap dari Mou itu, Wenger lantas menyampaikan nasihat bijaknya untuk rivalnya itu.

    “Mengritik pemain karena kalah? Anda bisa juga melakukannya di situasi yang ekstrem. Tapi sungguh, hal semacam itu harus dilakukan dengan sangat hati-hati,” dilansir dari BBC, Wenger menyampaikan kritikannya. “Anda tak bisa melakukannya di semua pertandingan. Apalagi para pemain TOP punya sudut pandang sendiri tentang apa posisi dan juga peran terbaik untuk dirinya,” imbuhnya.

    “Anda tidak boleh memosisikan diri sama dengan mereka semua. Anda menyalahkan mereka ketika kalah namun anda mendapatkan pujian bandar togel sgp saat mereka menang? Anda harus berjuang untuk mereka dan juga mengontrol apa yang anda katakana kepada mereka.”

    Jelas hal ini tidak baik bagi kondisi mental para pemain Manchester United. Wenger mengaku bahwa tidak seharusnya manajer suatu klub melakukan hal seperti itu. ia harus adil. Saat menang, usahanya dan anak asuhnya juga. Namun saat kalah, bukan hanya karena pemain, namun bisa saja karena sang pelatih yang belum bisa mengarahkan mereka secara maksimal.

    Read more
  • Vettel didukung Mark Webber Jadi Juara F1 Tahun 2017

    Mantan pembalap dari Red Bull, Mark Webber, juga ikut mengomentari penampilan yang menjanjikan yang Sebastian Vettel di awal musim ini. menurut Webber pribadi, Vettel sudah memberikan penampilannya yang terbaik di musim ini dan sangat bisa berpeluang menjadi juara dunia pada tahun 2017 ini.

    Penilaian Mark Webber terhadap Vettel dan Ferrari

    Seperti yang sudah diketahui, Mark Webber dan juga Sebastian Vettel sudha pernah berada dalam 1 tim di Red Bull sejak musim tahun 2010 sampai 2013. Dan dalam rentang waktu tersebut, Vettel telah sukses meraih sejumlah 4 gelar juara dunia sekaligus. Oleh sebab itu lah, Webber sudah sangat mengenal kepribadiannya Vettel. Ia sempat mengomentari aksi dan performa dari Vettel. “Mereka sudah menunjukkan performa yang sangat menjanjikan pada awal tahun ini. Dan mereka juga sangat kuat, terlihat amat sangat stabil dan tampil cukup menjanjikan pada awal musim ini,” ungkapnya. Tidak hanya memuja performa Ferrari musim ini, ia juga memberikan nilai apresiasi tersendiri.

    Dari sejumlah 4 balapan yang telah dilalui, Ferrari sendiri sudah menempatkan Sebastian Verrel sebagai pemimpin dari klasemen pebalap dengan total poin yang diraih sebanyak 86 poin. Pebalap asal Jerman tersebut unggul 13 poin dari Lewis Hamilton yang saat ini menempati posisi kedua.

    Webber kembali memberikan pujian bagi Vettel. “Sebastian bagi saya sudah menemukan penampilan yang terbaik lagi. Sepertinya dia sudah bisa mencium aroma juara lagi dan ia berada di trek yang tepat. Dia mampu melewati persaingan yang sangat ketat pada awal musim ini dengan sangat baik pula.”

    Webber juga menilai bahwa Ferrari sudah menyelesaikan pekerjaan mereka dengan sangat baik. Pekerjaan rumah mereka pun sudah mereka lakukan dengan baik pula. Mereka bahkan dinilai Webber bisa menghadapi regulasi balapan dengan baik padahal regulasinya sangat ketat di awal musim ini. “Untuk Red Bull sendiri mereka masih butuh banyak perbaikan untuk bisa menjadi seperti dulu lagi. Tapi saya lihat tim ini adalah tim yang sangat realistis, ya. Mereka tak selalu terpaku dengan hasil akhir saja,” ungkap Webber lagi.

    Dari ungkapan Webber di atas, sangat jelas ia sangat memuji performa dari Sebastian Vettel dan bagaimana Ferrari bisa membawa balapan di musim ini dengan sangat baik. Dan ia juga memberikan masukan yang banyak untuk Red Bull agar mereka bisa lebih baik lagi. Red Bull pernah mengalami masa kejayaan Poker online dan ia ingin agar Red Bull bisa kembali menemukan jati diri juaranya lagi di musim ini atau musim mendatang. Jelas Webber tak ingin berputus asa atau pesimis dengan hasil balapan.

    Sepanjang sejarahnya di Formula 1, Webber sayang sekali memiliki prestasi yang bisa dibilang kurang cemerlang. Pria yang berumur 40 tahun itu hanya bisa meraih jumlah kemenangan 40 kali, 42 kali bisa finis di podium dan 13 kali pernah meraih pole position. Namun bukan berarti kurang cemerlangnya prestasi dari Webber ini tidak bisa membuatnya melihat pebalap mana yang bagus dan pantas dipuji dan yang mana yang tidak pantas. Memang Sebastian Vettel mempunyai potensi itu dan Webber mengakuinya bahkan mendukungnya untuk terus dan kelak menjadi juara dunia tahun 2017 ini. pada tahun 2013 lalu ia memutuskan untuk pensiun dari balapan setelah 11 tahun lamanya berkarir menjadi pebalap. Itulah harapan dan apresiasi Webber untuk Vettel, mari kita lihat apakah Vettel sendiri bisa mewujudkan harapan semua termasuk Webber!

     

    Read more