Tuesday, 23/10/2018 | 11:45 UTC+0

PM Cina Akan Kunjungi Indonesia Membahas Kereta Cepat

Perdana Menteri Cina, Li Keqiang, bakal mengunjungi Indonesia dan juga bertemu dengan Presiden Joko Widodo pada tanggal 6 Mei 2018 mendatang. Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Armanatha Nasir, mengatakan bahwa lawatan PM Cina ke Indonesia ini dilakukan sebagai kunjungan balasan dan juga memenuhi undangan dari Jokowi yang sebelumnya sudah terlebih dahulu menemuinya di Beijing, tepatnya Maret 2015 yang lalu.

Kunjungan Balasan

Meskipun demikian, ia belum bisa memberikan detail rincian pembahasan yang bakal dibahas oleh Li dan Jokowi nantinya. “PM Cina akan berkunjung ke Indonesia pekan depan, selama beberapa hari. Lawatan ini dilakukan untuk memenuhi undangan Presiden Jokowi. Namun tentang detail pertemuan mereka masih dibicarakan oleh Menlu Retno Marsudi,” ucap Armanatha dalam sebuah jumpa pers yang digelar di Kementerian Luar Negeri RI, Kamis (3/5).

Ia juga mengatakan bahwa rincian lawatan Li ke Jakarta baru bakal diputuskan setelah Retno dan juga sejumlah pejabat Cina mengadakan pertemuan khusus, yakni besok, Jumat (4/5).

Sejumlah media lokal melaporkan bahwasanya Li bakal berkunjung ke Indonesia selama 3 hari saja sebelum dirinya bertolak ke Tokyo. Sementara itu, dikutip dari CNN Indonesia, lawatan Li ke Jakarta ini dilakukan untuk memperkuat kerja sama antara dua negara, dan salah satunya dalam bidang ekonomi.

Diperkirakan Li bakal membahas initiative One Belt and One Belt Road (OBOR), pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung dan juga upaya untuk mengintesifkan hubungan perdagangan bilateral antara kedua negara ini. setelah Indonesia, Li juga dijadwalkan bakal mengadakan lawatan ke sejumlah negara yakni Perdana Menteri Jepang misalnya, Shinzo Abe. Di sana, dirinya akan dijadwalkan menghadiri pertemuan trilateral yakni antara Korea Selatan, Jepang dan Cina.

Perkuat Ekonomi dengan Indonesia

Cina  tidak main-main dalam membentuk hubungan yang baik dengan Indonesia apalagi setelah adanya perang dagang dengan Amerika Serikat. Pemerintah Cina pasalnya sudah sepakat untuk meningkatkan volume impor produk kelapa sawith Indonesia sesudah negara yang memiliki jumlah penduduk terbanyak itu mengurangi impor kedelainya dari Amerika Serikat.

Hubungan dagang antara pemerintah AS dan Cina saat ini memang sempat memanas seiring dengan pemberlakuan adanya tarif impor yang mana dilakukan keduanya untuk mengganjal satu sama lainnya. “Kami bilang kalau butuh sawit, kami tambah lagi. Kelihatannya mereka setuju,” ungkap Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman.

Menurut Luhut juga, penambahan impor kelapa sawit adalah salah satu langkah Indonesia untuk bisa memanfaatkan perang dagang yang sedang berlangsung antara Negeri Paman Sam dan Cuna itu. ia berharap bahwa rencana penambahan impor sawit dari Indonesia ini dapat diumumkan secara resminya oleh PM Cina ketika melakukan kunjungannya nanti pada tanggal 6 Mei 2018.

Nilai impor kelpaa sawit dari Indonesia ke Cina dalam beberapa tahun terakhir ini bisa dikatakan mengalami kenaikan bandar togel hongkong yang signifikan. Di akhir tahun lalu, bahkan impor kelapa sawit dari Indonesia ke Cina mencapai 3,73 juta ton. Hasil ini artinya naik apabila dibandingkan sebanyak 3,23 juta ton.

“Kalau misalnya Cina setuju peningkatan impor sawit maka bakal banyak membantu 16 juta petani kita,” ungkap Luhut.

Kepada pembuat-pembuat kebijakan di Cina, jenderal purnawirawan TNI tersebut juga mengatakan bahwa posisi Indonesia sudah tegas tetap netral dalam menyikapi perang dagang yang tengah terjadi antara Cina dan AS. Luhut telah menegaskan bahwa Indonesia tak memihak mana pun.

About

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *