Tuesday, 12/12/2017 | 8:25 UTC+0

Orang Indonesia Paling Malas Jalan Kaki: Data Ponsel Dunia

Orang Indonesia adalah orang yang termalas berjalan kaki. Benarkah? Setidaknya itu lah hasil atau fakta temuan dari sejumlah ilmuwan Amerika Serikat yang mengkaji data ponsel dari ratusan ribu orang yang ada di seluruh dunia.

Indonesia Penduduknya Paling Malas Jalan Kaki

Peneliti-peneliti di Universitas Standford menggunakan data menit per menit dari sebanyak 700.000 orang yang menggunakan Argus (sebuah aplikasi pemantau aktifitas) pada telepon seluler mereka. hasilnya adalah orang-orang Hong Kong lah yang menjadi peringkat teratas orang-orang yang paling rajin berjalan kaki. Rata-rata public Hong Kong berjalan kaki sebanyak kurang lebih 6.880 langkah per harinya.

Adapun orang yang paling malas seduni untuk jalan kaki adalah orang Indonesia yang berada di peringkat terbuncit dengan catatan langkah hanya kurang lebih 3.513 per harinya. “Kajian kami menyajikan data lebih banyak negara, lebih banyak subjek, dan juga memantau aktifitas orang-orang setiap hari. Hal ini pastinya membuka pintu dalam melakoni sains dengan cara yang baru dan dalam skala yang lebih besar juga dari sebelumnya,” ungkap Scott Dep, salah satu dari peneliti yang merupakan seorang professor di bidang bioteknik.

Kesenjangan Aktivitas

Peneliti-peneliti tersebut menemukan adanya kesenjangan dewa poker pada setiap negara antara penduduk yang paling malas bergerak dan penduduk yang paling rajin bergerak. Semakin besar kesenjangan tersebut, maka semakin besar juga taraf obesitasnya. Tim Althoff, salah seorang peneliti memberikan contoh negara Swedia.

“Swedia merupakan salah satu negara yang mempunyai celah tesempit. Negara itu juga merupakan negara yang memiliki taraf obesitas paling rendah,” ungkapnya.

Para peneliti sendiri terkejut bahwa kesenjangan aktivitas tersebut ternyata didorong oleh kegiatan berbasis gender. Di negara seperti contohnya Jepang- yang mempunyai kesenjangan sempit dan taraf obesitas yang rendah- pria dan wanita berolahraga sama rajinnya. Namun seperti di negara-negara yang kesenjangan aktivitasnya sangat lebar seperti Amerika Serikat dan juga Arab Saudi, para kaum wanitanya menghabiskan waktu lebih sedikit untuk beraktivitas.

Jure Leskovec, peneliti yang lainnya berkata, “Saat kesenjangan aktivitas lebar, maka kegiatan wanita berkurang jauh lebih dramatis apabila dibandingan dengan kegiatan prianya. Oleh karena itu, keterkaitan dengan obesitas akan mempengaruhi wanita lebih besar.”

Subyek lainnya yang juga timbul di penelitian ini adalah infrastruktur. Data ponsel memberikan data kota-kota yang trotoarnya lebih bagus seperti sebut saja San Francisco dan New York, penduduknya lebih rajin berjalan kaki apabila dibandingkan dengan kota-kota yang bertumpu pada kendaraan sebagai transportasi berkeliling seperti Memphis dan Houston.

Berkaitan dengan penelitian ini, ada penelitian yang sudah diadakan sebelumnya yang berbicara soal kota yang warganya banyak memilih untuk berjalan kaki mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi dan pendidikan yang lebih tinggi. Namun mengapa bisa demikian?

Sebuah laporan singkat mengungkapkan bahwa kota-kota di Amerika Serikat yang sangat ramah pada pejalan kaki sering kali mempunyai tingkat pertumbuhan pendidikan dan ekonomi yang lebih tinggi. Warganya juga diklaim mempunyai pendidikan yang lebih tinggi. Studi yang dilakukan oleh badan advokasi masalah tata kota, Smart Growth America, ini menemukan hasil itu di 30 kota besar yang ada di Amerika. Salah satu alasannya adalah daerah yang ramah pejalan kaki memiliki warga yang cerdas sepertiga kali lebih banyak apabila dibandingan dengan yang ramah pengemudi.

Jika demikian, maka apakah bisa disimpulkan bahwa Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi dan pendidikan yang lebih lambat karena malasnya penduduk Indonesia untuk berjalan kaki?

About

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *