Monday, 12/11/2018 | 9:15 UTC+0

Ada Hijabers Metal dari Pelosok Garut yang Angkat Berbagai Kritikan Sosial

Ada tiga remaja yang berhasil menjadi sorotan publik. Tiga remja dari pelosok desa Garut, Jawa Tengah itu mengangkat berbagai macam kritikan sosial dan juga mencegah ‘pergaulan bebas’ dengan aktif dalam band yang mereka namai Voice of Baceprot. Band metal itu beraliran metal dan Baceprot sendiri artinya bawel atau dalam bahasa Sunda berisik.

Tentang Band Voice of Baceprot

Tiga remaja itu adalah Firda Kurnia, Euis Siti Aisyah dan Widi Rahmawati. Mereka membentuk band dengan bantuan pengasuh mereka dan juga mantan guru mereka yakni Cep Ersa Eka Susila Satia. Saat itu mereka membentuk band saat masih bersekolah di Madrasah Tsanawiyah atau pun sekolah yang setara dengan Sekolah Menengah Pertama pada bulan Februari 2014 silam di desa Ciudian, Garut.

Sebenarnya banyak sekali pertentangan yang mereka hadapi saat band ini pertama kali terbentuk, terutama karena aliran mereka yang metal. Tanggapan yang mereka dapatkan dilontarkan oleh pemain bass dari band ini, Widi, “ Yah ngapai main band, perempuan yang berhijab biasanya marawisan (marawis main gendang dalam rebana) bukannya main ngeband di atas panggung.”

Banyak yang Menentang Voice of Baceprot

Sedangkan Cep Ersa yang mendirikan band mereka juga mengatakan, “Awalnya banyak pertentangan, banyak yang menentang Poker dari sekolah dan juga orang tua. Mulanya mereka bertujuh hingga sampai sekarang tinggal bertiga saja.”

“Banyak yang menentang termasuk juga guru ngaji mereka karen tak dianggap pantas karena metal identi dengan hal-hal yang negative dank arena penotonnya sering rusuh,” imbuh Ersa.

“Mereka itu perempuan yang berhijab dan dibesarkan di daerah dengan pola didik yang tidak merdeka. Banyak hal yang ditabukan dan dibatasi juga. Padalah di luar sana, mereka melakukan hal yang terlarang. Justru ketika mereka diberi ruang gerak, mereka akan jauh lebih mengenal diri mereka sendiri,” ucap Ersa lagi mengemukakan pendapatnya.

Namun di tengah-tengah penentangan, dalam 3 tahun terakhir ini, remaja berusia 15 dan juga 16 tahun ini sudah sukses manggung dan juga ikut festival di berbagai kota di Jawa Barat. “Perasaan lega dan juga senang sekaligus bangga karena bisa menyuarakan kegelisahan hati lewat sebuah karya. Semoga makin banyak remaja yang terinspirasi dan juga bisa mengikuti jejak kami,” ucap Firda, vokalis dan juga gitaris dari Voice of Baceprot.

 ‘Pergaulan Bebas: Penjajah Moral’

Sementara itu, Siti merasa amat sangat terbantu dan juga terhidar dari apa yang ia sebut sebagai pengaruh negative dalam pergaulan remaja. Ia menceritakan tentang hal-hal yang negative yang ada di sekeliling mereka yang mereka sebut sebagai ‘penjajahan moral’. “Saya merasa menemukan sebuah dunia yang baru, music yang sudah menyelamatkan hidup saya. Pergaulan remaja sangat hancur dan saya terbebas dari pergaulan bebas remaja, seks bebas, geng motor, tawuran dan narkoba,” ungkapnya.

Cep Ersa menguatkan, “ Kehidupan di pelosok jauh lebih mengkhawatirkan. Penjajahan moral di pelosok lebih mengkhawatirkan dibandingkan di kota. Di kota lazim, sedangkan di kampung menjadi trend an saat jadi tre ini malahan menjadi penjajah moral bagi remaja.”

Di antara lagu-lagu yang band ini bawakan, ada kritikan sosial yang mereka sering bawakan termasuk The School Revolution dan juga The Enemy of Earth is You.The Enemy of Earth is You berisikan sebuah kritikan sosial untuk mereka yang mencitrakan dirinya benar dalam segala macam bidang. Orang yang mencitrakan diri sebagai pelindung alam tapi malah merusaknya.”

About

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *